Skip to content Skip to left sidebar Skip to right sidebar Skip to footer

Dua Tahun Menunggu Kepastian, Ucapan Syukur Atlet Kickboxing Jateng Pecah di Gedung KONI

JAKARTA – Hampir dua tahun lamanya Sindhytyas Putri Vendhayana dan adiknya, Chavella Teyza Putri Vendhayana, hidup dalam penantian. Bukan menunggu panggilan bertanding, bukan pula menanti seleksi, melainkan menunggu kepastian, apakah perjuangan dan prestasi mereka di arena kickboxing PON XXI/2024 Aceh–Sumatera Utara benar-benar akan diakui.

Jawaban itu akhirnya datang pada Selasa (3/2/2026). Dengan wajah lega dan mata berkaca-kaca, dua atlet asal Jawa Tengah itu resmi menerima Penyerahan Pengalihan Juara Cabang Olahraga Kickboxing PON XXI/2024 Aceh–Sumut di Gedung KONI Pusat, Jakarta. Sebuah pengakuan yang terasa mahal setelah proses klarifikasi dan koreksi hasil berlangsung hampir dua tahun. Hal ini setelah salah satu atlet peraih medali didiskualifikasi karena persoalan aturan.

“Alhamdulillah… akhirnya jelas,” ucap Sindhytyas pelan, usai prosesi penyerahan pengalihan juara. Kalimat singkat itu menyimpan beban panjang yang selama ini mereka pendam.

Selama masa penantian, keduanya tetap berlatih seperti biasa. Namun, di balik rutinitas fisik yang keras, ada rasa gamang yang tak mudah dijelaskan. Tidak ada kepastian administratif, tidak ada kepastian penghargaan, hanya keyakinan bahwa mereka telah bertanding dengan jujur dan maksimal.

“Kami hanya menunggu jalur resmi. Menunggu Surat Keputusan dari KONI Pusat. Selama itu belum keluar, semuanya seperti menggantung,” tutur Sindhytyas.

Penantian itu tak jarang menguji mental. Bagi atlet, medali bukan sekadar logam, melainkan pengakuan atas kerja keras, disiplin, dan pengorbanan bertahun-tahun. Tanpa kepastian, semangat bisa runtuh kapan saja.

Chavella, sang adik, memilih diam lebih banyak. Namun kehadirannya yang setia di sisi sang kakak menjadi penguat tersendiri. Mereka bukan hanya bertanding sebagai atlet, tetapi juga sebagai saudara yang saling menguatkan.

Ketua Umum KONI Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, yang hadir langsung dalam penyerahan tersebut didampingi Waketum II Dwi Yasmanto, Wasekum III Bayu Eka Erdiyan, serta Wakabid Binpres David Hasian B Sinaga, mengakui bahwa kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.

“Ini kebahagiaan bagi atlet kami. Semua ada prosesnya, dan hari ini hasilnya ditetapkan. Yang terpenting, atlet mendapatkan kembali kepercayaan diri dan pengakuan atas perjuangan mereka,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa medali perunggu ini bukan akhir, melainkan awal baru. Modal kepercayaan diri untuk melangkah ke ajang yang lebih besar.

Bagi Sindhytyas dan Chavella, kepastian ini bukan hanya tentang podium PON. Ini tentang keadilan. Tentang keyakinan bahwa suara atlet, meski kecil, tetap akan didengar jika diperjuangkan dengan sabar.

“Kami berharap ini menjadi yang terakhir. Regulasi harus lebih jelas agar atlet tidak lagi berada di posisi menunggu tanpa kepastian. Kami hanya ingin bertanding dan dihargai secara adil,” kata Sindhytyas.

Hari itu, di Gedung KONI Pusat, medali perunggu akhirnya berpindah tangan. Namun yang benar-benar mereka bawa pulang adalah rasa lega, harga diri, dan keyakinan bahwa perjuangan yang jujur, meski lama, tak pernah sia-sia.()

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

slot gacor 4d slotgacor4d slotgacor4d sakuratoto sakuratoto totoagung amintoto amintoto cantiktoto qdal88 gacor4d gacor4d gacor4d olympus super scatter toto slot slot gacor slot qris slot qris slotgacot4d slot gacor 4d slot gacor 4d totomacau slot gacor maxwin
totoagung toto slot slot gacor 4d totoagung situs slot gacor link maxwin totoagung totoagung totoagung totoagung totoagung
cantiktoto toto slot agen toto slot cantiktoto qdal88 idn slot slot gacor 4d qdal88 slotgacor4d toto slot 4d gacor4d sakuratoto3